Said ibnu Amir Sang Pemimpin Yang Bersahaja

0170Sa’id bin Amir, beliau adalah salah satu dari sahabat Rosululloh yang dikaruniai usia cukup panjang sehingga di masa kekhalifahan Umar bin Khatabpun beliau masih tetap berbakti demi kebangkitan Islam dan kesejahteraan kaum muslimin, dan khalifah Umarpun memberikan kepercayaan kepada Sa’id bin Amir untuk menjadi gubernur di daerah Himsa, setelah beberapa tahun, Umar bin Khatab memerintahkan para utusan dari setiap daerah untuk mengambil jatah bagi penduduk yang lemah dan miskin di setiap daerah tersebut, tidak terkecuali penduduk Himsa yang dipimpin oleh Sa’id bin Amir, lalu para utusan dari setiap daerah memberikan daftar nama orang-orang yang fakir di daerah mereka, kemudian giliran dari daerah Himsa yang menyerahkan daftar nama-nama orang yang fakir di daerah tersebut, kemudian Khalifah Umar memperhatikan dengan seksama nama-nama orang fakir tersebut, dan di daftar tersebut tertulis dengan jelas sebuah nama yang tidak asing bagi Khalifah yaitu “Sa’id bin Amir”. Lalu khalifah Umar bertanya kepada utusan dari Himsa tersebut: “siapa Sa’id bin Amir ini?” lalu utusan tersebut berkata: ”gubernur kami wahai Amirul mukminin” dengan nada yang kaget Umar berkata lagi: “Gubernur kalian fakir?” lalu utusan itupun menjawab: “benar wahai Amirul Mukminin”. Kemudian Umar memberikan beberapa keping emas agar diberikan kepada Sa’id bin Amir untuk bekal hidupnya. Singkat cerita para utusan dari Himsa pulang dengan membawa perbekalan dari baitul mal yang hendak dibagikan kepada orang-orang fakir miskin di daerah tersebut, termasuk beberapa keping emas yang akan diberikan kepada sang Gubernur Sa’id bin Amir, lalu mereka datang ke rumah Said bin Amir dan menyerahkan beberapa keping emas tersebut, lalu dengan sangat kaget Sa’id bin Amir berkata:”innalillahi wa inna ilaihi roji’un” dan suaranya tersebut terdengar oleh istrinya yang lantas bertanya:”ada apa wahai suamiku, apakah Amirul Mukminin telah wafat?” lalu Said bin Amir menjawab:” ini lebih mengagetkan dari hal itu”. Yaitu telah datang kepadaku dunia untuk menghancurkan akhiratku”. Lalu isterinya berkata lagi: ”lalu apa yang bisa kubantu untuk membebaskanmu dari jeratan dunia itu?”, lalu Sa’id bin Amir memerintahkan isterinya agar memberikan semua kepingan emas itu kepada rakyatnya yang lebih membutuhkan, lalu tanpa banyak protes isterinya yang sholehah itu memberikan semua kepingan emas itu kepada rakyatnya yang sangat membutuhkan tanpa tersisa sedikitpun.
Lalu setelah beberapa bulan kemudian, Khalifah Umar bin Khotob berkunjung ke daerah Himsa untuk meninjau masyarakat di sana, kemudian Umar bin Khatab mengumpulkan sebagian besar penduduk Himsa yang dianggap mewakili seluruh penduduk Himsa di suatu lapangan yang luas, dan di sana juga tidak tertinggal gubernur mereka yaitu Said bin Amir, lalu Umar bin Khatab bertanya kepada mereka:”wahai segenap penduduk Himsa, apakah ada yang kalian keluhkan tentang kepemimpinan Said bin Amir?”, lalu mereka menjawab:”ada… wahai Amirul Mukminin, ada tiga hal yang kami tidak sukai dari Said bin Amir”, kemudian Umar bertanya lagi kepada mereka:” apa itu? Coba katakan biar gubernur kalian bisa menjelaskannya kepadaku dan kepada kalian”, lalu mereka berkata:
”1. Said bin Amir tidak pernah keluar untuk melayani kami kecuali setelah mata hari beranjak naik
2. Said bin Amir pada setiap minggunya ada satu hari yang tidak membolehkan kami berkunjung kepadanya untuk dilayani olehnya
3. Said bin Amir kalau malam hari tidak memperbolehkan kami menemuinya, itulah tiga hal yang kami keluhkan dari gubernur kami”
Lalu umar bin khotob memandang Said bin Amir dan menyuruhnya agar menjelaskan semua itu, kemudian Said bin Amir dengan penuh rasa malu berkata:”sebenarnya saya tidak ingin mengungkapkan hal ini, tapi demi kebaikan bersama dan menghindari fitnah baiklah saya akan jelaskan tentang semua itu:
1.    kenapa saya tidak keluar melayani penduduk himsa kecuali setelah matahari beranjak naik, jawabannya adalah karena di rumah, saya tidak memiliki pembantu sehingga untuk makan sekeluarga, pagi-pagi sekali saya harus membuat adonan roti hingga matang oleh saya sendiri, dan selesainya setelah matahari beranjak naik
2.    kenapa dalam satu minggu saya mengkhususkan satu hari agar tidak menerima penduduk Himsa, jawabannya adalah karena saya tidak memiliki pakaian kecuali yang saya pakai ini, dan satu hari dalam seminggu saya sempatkan untuk mencucinya, dan ketika baju ini di cuci saya hanya berdiam diri dikamar, dan bagai mana saya bisa melayani penduduk Himsa sedang saya tidak berpakaian.
3.    kenapa malam hari saya tidak membiarkan penduduk himsa mengunjungi saya, jawabannya adalah sebab pada siang hari saya telah menghabiskan waktu saya untuk melayaniu mereka, dan saya ingin mengkhususkan waktu malam hari saya sepenuhnya untuk beribadah dan bermunajat kepada Allah semata.
Itulah alasan  mengapa saya melakukan semua itu, sebenarnya saya tidak ingin hal ini diketahui oleh orang lain”. Dengan rasa haru dan bangga Umar bin Khotob berkata: ”Alhamdulillah, karena engkau tidak menyia-nyiakan kepercayaanku padamu”. Dan dengan perasaan bangga dan terharu penduduk himsa pun bersorak sorai menyanjung dan memuji pemimpin mereka yaitu Said bin Amir. ”

ditulis ulang dari buku 60 karakteristik sahabat Nabi yang diterjemahkan dari kitab Rijalun Haulan Nabi karya Khalid Muh. Khalid:183

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s