Menyikapi Perbedaan Dengan Memperkuat Aqidah

Ketika kita bisa beribadah dengan tenang, shalat dengan begitu khusyunya, berpuasa dengan begitu semangatnya, bahkan shalat dan puasa sunah pun tak pernah kita lewatkan, itu akan menjadi hal yang biasa saja dan bukan hal yang istimewa jika kita lakukan ditengah-tengah lingkungan yang mayoritas penduduknya sama seperti itu, akan tetapi hal yang demikian akan menjadi sesuatu yang luar biasa dan sangat istimewa jika kita lakukan dilingkungan yang carut marut yang mayoritas orangnya senag berpoya-poya, yangdosa dianggap biasa, dan durhaka dirasa bangga, dan tidak ada cerminan ketaatan kepada sang Khaliq.

kebanyakan kita mengklaim sebagai orang yang bertauhid dan beraqidah lurus akan tetapi kita sering memilah-milah kelompok tertentu untuk menjadi teman dan sering membeda-bedakan satu sama lain, padahal kita tidak didik untuk menjadi manusia yang berkepribadian ganda, seorang Mario Teguh berkata: “jika kita membeda-bedakan sikap kita terhadap orang-orang yang berada diasekeliling kita berarti ada sesuatu yang rusak di dalam hati kita” bahkan agama tak lebih mengecap orang yang berkepribadian ganda sebagai orang yang munafik.

dan yang lebih aneh juga sangat disayangkan ketika orang yang mengaku bertauhid dengan lurus sering membatasi referensi yang hendak dia baca, seolah takut terpengaruh oleh golongan terterntu padahal dalam buku atau karya tersebut banyak hal fositif yang dapat kita ambil, lalu pertanyaannya? mengapa orang tersebut sangat ketakutan, lalu kenapa tauhidnya tersebut tidak bisa menjadi perisai yang kokoh untuk menangkal “radikal bebas” dalam jiwanya. justru tauhid kita akan terbukti kebal dan tangguhnya ketika kita sering bersentuhan dengan buku-buku bahkan orang sekalipun yang berbeda paham dan pemikiran dengan kita, dan kita tidak terengaruh walau sedikitpun dengan pemikiran dan pemahamannya akan tetapi kita banyak mengambil manfaat dan kebaikan dari karya-karya mereka. bukankah kita sering mendengar pepatah “jadilah kita seperti ikan dilautan yang luas, walaupun airnya asin ikan di laut tidak lantas menjadi asin”.

pesan saya bagi para ikhwan dan akhwat yang sering membatasi referensi karena pengarangnya orang tertentu dan golongan tertentu padahal didalamnya banyak kebaikan yang dapat kita petik. maka perhatikanlah firman Allah dalam Q.S. Al-Maidah ini “dan janganlah kebencian kamu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlku tidak objektif (adil), berlaku objektiflah (adil) karena itu mendekatkan kepada ketaqwaan” (Q.S.Al-Maidah:8)

Saudaraku tidak sepatutnya rasa takut yang berlebihan membatasi kita untuk berkarya dan bergaul dengan siapa saja dan ketika ada karya atau referensi yang dibuat oleh orang yang beda pemahaman dengan kita, selama banyak manfaat yang dapat kita petik, janganlah takut untuk meraihnya. karena sejak 14 Abad silam Rasululloh Saw telah memberikan kita sebuah obat yang mujarab berupa do’a agar kita senantiasa di jalan yang benar tetunya menurut Allah dan Rasul-Nya, walaupun kita hidup di tengah-tengah masyarakat yang bermaca-macam aliran dan pemahaman.

berikut do’a Rosululloh Saw: “Allohumma robba jabrooila wa mikaala wa isrofila, fatirossamawati wal ard, ‘alimal ghaibi wassyahadah Anta tahkumu baina ibadika fiima kanu fihi yakhtalifun, ihdinaa limakhtulifa fihi minal haqi bi idznik, innaka Tahdi man Tasya ilaa syirotim mustaqim” (H.R. Bukhari dan Muslim)….yang artinya “Yaa Allah, Tuhan Malaikat Jibril, mikail, dan Isrofil, Yang Mengelola Langit dan bumi, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nampak, Engkaulah yang memutuskan (menghukumi) apa-apa yang diperselisihkan di antara hamba-hamba-MU. Tunjukkanlah kami kepada yang Benar diantara yang diselisihkan tersebut dengan izin-Mu, sesungguhnya Engkau maha Memberi Petunjuk kepada siapa saja yang Engkau kehendaki ke jalan yang Lurus (benar)”. (HR.Bukhari dan Muslim).

Saudara-saudaraku marilah kita isi hidup kita dengan penuh khusnudzon (berbaik sangka) kepada siapapun, dan marilah kita bersatu dalam keberagaman dan perbedaan, karena Agama dan bangsa ini akan kuat jika umat dan penduduknya bersatu, dan tentunya dengan tetap berpegang teguh kepada norma dan aturan yang telah Allah dan Rasulnya gariskan, dan seringlah berdo’a agar kita tetap berada di jalan yang lurus yaitu jalan yang diridhoi oleh Allah SWT. Amiin. Yahdiinillah wa iyyakum ilaa syirotil mustaqiem. wallohu a’lam bishowab.

By: Endang Suryaman

One thought on “Menyikapi Perbedaan Dengan Memperkuat Aqidah

  1. Siiip……….., mudah-mudahan suatu saat ummat ini jadi umat yang mau bersatu walau berbeda pendapat dan penafsiran, intinya kalau mau bersatu kita harus menjaga ego masing-masing yang ingin selalu menang dan benar sendiri… padahal ahli sufi terkemuka seperti Jalaludin Rumi pernah berkata “berhala terbesar adalah ego kita sendiri” sejalan dengan itu Allah SWT juga telah berfirman “aro aita manittakhodza ilahahu hawah” bagaimana pendapatmu “Muhammad” tentang orang-orang yang menjadikan hawa nafsunya (egonya) sebagai tuhan”….. wallohu a’lam,
    salam sukses juga Teh Ayunda!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s